Afasia dan Akasia

emakSebagai perantau, baru kali ini saya merasakan betapa tidak mudahnya mendapatkan tiket mendadak di saat puncak mudik seperti sekarang. Itu terjadi hari Jumat lalu, yang berakhir dengan satu tiket bis di tangan. Itu pun untuk kursi di sebelah supir. Saya tiba di rumah setelah menempuh perjalanan selama 29 jam. Duduk di sebelah supir juga membuat saya terjaga selama itu. Semua saya lakukan demi ibunda, yang hari Jumat siang terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Saya tiba di rumah sakit sekitar pukul 11.00 malam dan kebetulan ibu dalam keadaan terjaga. Begitu melihatnya, langsung terpikir ibu terserang afasia, suatu gangguan berbahasa yang biasanya diakibatkan oleh cidera otak. Gangguan ini menjadi salah satu materi yang dibicarakan dalam kelas psikolinguistik, tentu dengan penekanan pembahasan dari sisi bahasa.

Selama bertahun-tahun saya mengajarkan materi ini rupanya tak membuat saya mudah menerima jika keluarga terdekat mengalaminya. Gangguan afasia meliputi semua aspek, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik (Benson dan Ardila, 1996), di samping gangguan terhadap memori. Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba ibu tak bisa mengingat suami, anak, cucu, dan kesulitan mengucapkan kata yang sederhana sekalipun. Sedih. Sedih sekali.

Dalam kasus ibu saya, dari hasil CT scan diketahui cidera otak ini diakibatkan karena adanya penyumbatan di bagian kanan dan kiri otaknya. Dokter yang menangani menyebutnya afasia motorik (motor aphasia), sedangkan dalam psikolinguistik gangguan ini biasanya disebut broca’s aphasia. Kabar baiknya, kondisi ginjal ibu dalam keadaan sehat jadi obat untuk stroke bisa diberikan secara maksimal.

Hari ini, Senin, bertepatan dengan Idulfitri 1 Syawal 1435 H, kami hanya berdua di kamar. Saya berlebaran dan mohon maaf kepada ibu. Dan, alangkah bahagianya ketika ibu mencoba menimpalinya dengan terbata-bata dan berusaha menyebut nama saya. Sejak saya datang hari Sabtu malam, inilah pertama kali ibu memanggil nama saya. Kemajuan yang luar biasa, meski ibu belum bisa mengingat suami dan anak-anak saya.

Dari balik jendela, rindang pohon akasia di halaman rumah sakit ini ikut menemani bahagia saya. Sehat dan bahagialah, ibu. Bersama kami dan rimbun akasia.

14 Responses to Afasia dan Akasia

  1. wongkamfung says:

    Semoga Emak diberi kesembuhan. Sedih rasanya tak bisa dapat tiket apapun untuk mudik agar bisa membezuknya. :'(

    Salam persahablogan,
    @adiwkf

  2. kabe says:

    semoga ibunda membaik dan ingat semua orang yg dicintainya. selamat lebaran maaf lahir batin

  3. eni hartati says:

    Semoga ibunda lekas diberikan kesembuhan.

  4. Neny says:

    Semoga cepat sembuh ya, Mbak. Sori kemarin berisik2 di RS. Semoga Ibu gak terganggu #peluk

  5. atiek says:

    semoga ibunda lekas sembuh ya mbak *hugs*

  6. didut says:

    semoga bunda cepat diberi kesembuhan ya, yang tabah mbak ^^

  7. taufik says:

    Semoga ibu cepat sembuh..

  8. Semoga lekas sembuh, ya, Bu untuk ibundanya :)

  9. […] dan menyegarkan jiwamu. Dulu, ketika menemani ibu sewaktu terkena serangan pertama saya ditemani rimbun akasia, kini ada beberapa batang pohon tabebuya yang tumbuh subur di halaman rumah sakit. Sayang tidak […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected