Bangau dan Akar Bambu

Tadi malam, selepas mengajar, saya kembali terhibur oleh lagu-lagu komunitas musik Akar Bambu. Kelompok ini tampil di Rumah Kopi Ranin dalam rangka merayakan ulang tahun kedai kopi ini sekaligus memperingati Hari Tani. Acara yang asyik.

akar bambuAkar Bambu ini keren. Komunitas musik yang tumbuh di Bogor ini menyuarakan keresahan di sekitar kita melalui lagu. Inilah alasan mengapa saya memakai lagu-lagu mereka sebagai bahan diskusi  minggu lalu dalam pembahasan mengenai analisis wacana kritis (critical discourse analysis), sebuah pendekatan dalam mengkaji wacana terkait dengan keadaan sosial. Kali itu, pembahasan berfokus pada wacana lagu.

Selain lagu tentang sesuatu yang lebih kompleks di luar sana, dari rasisme hingga diskriminasi, kami juga mengangkat lagu-lagu yang dengan konteks lokal.  Lagu yang berjudul Tuhan, Hantu, Hutan misalnya, bertutur tentang terbabat habisnya hutan karena pembangunan yang diinisiasi oleh mereka yang menyebut dirinya tuhan. Mereka merasa bisa melakukan apa saja karena di mata mereka uang bisa membeli apa saja yang mereka inginkan, termasuk kekuasaan.

Aku bisa memberi kalian air tetapi tidak memberikan begitu saja
Sekarang jangan panggil aku tuan tetapi kalian harus memanggilku tuhan
Kalian memilih memanggilku tuhan atau kalian memilih tuk mati kelaparan

Selain lagu-lagu Akar Bambu, minggu lalu saya juga memutar Bangau Risau. Lagu yang merupakan musikalisasi sebuah puisi ini dinyanyikan oleh sahabat saya @mataharitimoer. Kisah si bangau pun tak jauh berbeda. Ia kehilangan habitat, tak lagi bisa membedakan banjir dan sisa rawa, dan harus mengungsi mencari sisa bakau. Semua demi pembangunan.

Lagu adalah salah satu media bersuara yang sangat efektif. Namun, bukan berarti mereka yang tak bisa menyanyi atau mencipta lagu tak bisa berkontribusi, bukan? “Temukan jalan kekalifahan kita masing-masing. Tuhan  menciptakan kita untuk suatu alasan.”, begitu kata mas Amin, vokalis Akar Bambu, tadi malam.

O ya, tadi malam saya ditemani secangkir coklat panas. Selain kopi, coklat kedai kopi ini juga juara.

coklat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>