Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Bebek Dubes

Kemarin saya mengikuti acara kopdar yang diadakan oleh teman-teman dari Komunitas Blogger Bogor (Blogor) di rumah makan Bebek Dubes, Jl. Siliwangi no. 6. Saya pesan bebek panggang madu, es teh tawar dan jus sirsak. Dari segi rasa, semua makanan dan minuman yang saya pesan enak: bebek yang empuk, jus yang pas tidak terlalu manis dan teh dengan rasa sepat yang saya suka. Mungkin jadi lebih enak karena gratis. Seusai acara, seorang teman menanyakan kepada saya apakah dubes itu termasuk akronim. Nah, ini yang menarik.


Ternyata pengertian akronim dalam bahasa Indonesia adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (KBBI, 2003: 21). Contoh yang diberikan dalam kamus ini adalah mayjen (mayor jenderal), rudal (peluru kendali) dan sidak (inspeksi mendadak).

Sedangkan sependek pengetahuan saya, pengertian akronim adalah kata yang dibentuk dari huruf awal dari dua kata atau lebih (Matthew, 1997: 6). Dari pengertian ini, beberapa kata sebagai contohnya adalah AIDS (Acquires Immune Deficiency Syndrome), ASEAN (Association of South East Asia Nations), UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), radar (radio detecting and ranging), laser (light amplification by simulated emission of radiation) dan scuba (self-contained underwater breathing apparatus) (Chuan Aik, 1992: 14-15).

Dengan pengertian yang kedua itu, kata bentukan mayjen, rudal, dan sidak tidak termasuk akronim, melainkan lebih khusus lagi yaitu blending, sebagaimana yang saya tulis dalam Blog and Blend. Kalau pengertiannya seperti yang tercantum dalam KBBI, akan lebih lengkap jika ditambahkan juga contoh lain seperti ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), sutet (saluran udara tegangan ekstra tinggi), dan pilkada (pemilihan kepala daerah). Barangkali dalam bahasa Indonesia tidak ada istilah khusus yang memayungi fenomena bahasa seperti yang terjadi dalam proses blending, sehingga pengertiannya sudah dianggap tercakup dalam akronim.

Jadi, kembali ke pertanyaan teman apakah dubes itu akronim atau bukan, jawaban saya ada dua. Jika maksudnya duta besar, mestinya termasuk blending. Jika maksudnya adalah doa usaha bersama ekonomi sukses seperti yang dituturkan oleh pemilik resto, mbak Nindy, kata dubes termasuk akronim.

Keduanya tak masalah, yang penting bebeknya enak.

6 Responses to Bebek Dubes

  1. banyumurti says:

    Hidup Bebek Dubes! Seperti kata WKP, Bebek panggang madunya mak crot!

  2. MT says:

    terima kasih. untungnya punya teman ahli bahasa. bisa tanya dulu sebelum menulis

  3. Bebek Dubes says:

    Terima kasih atas kunjungannya bu. Mudah-mudahan puas dan berkenan berkunjung kembali ke kedai kami bersama keluarga :)

  4. cepy says:

    hmm..nambah wawasan linguistik lagi nih..

    bener mbak, yang penting bebeknya enak, dan yang penting… gratis :D *mahasiswa cekak

  5. utami utar says:

    @wkf2010: ada yang kurang ya, kurang gede ..
    @Banyumurti: Hidup!
    @MT: Saya juga senang punya teman blogger handal..
    @Bebek Dubes: Sama-sama.
    @Cepy: Semoga kita diundang lagi ya #kode

  6. dita says:

    Nom!
    Jadi mau mampir, Bu! ♥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>