Berpikir Pun Ada Seninya

thinking clearlySetelah The Happiness Project, buku yang saya ulas kali ini berjudul The Art of Thinking Clearly. Keduanya sama, makanan untuk jiwa.

Buku setebal 358 halaman yang ditulis oleh seorang novelis sekaligus pilot ini membabar cara berpikir dari beberapa sisi. Dari sisi personal seorang individu hingga yang berhubungan dengan orang lain. Pembahasan yang lumayan kompleks disajikan dalam 99 topik. Dengan mengemas masing-masing topik ke dalam tiga halaman, lengkap dengan contoh kasus, penjabaran menjadi lebih fokus dan tidak melebar ke mana-mana.

Dari semua topik yang dibahas, sebagian menarik. Inilah yang saya bagi di sini. Dan, sebenarnya akan lebih menarik lagi jika topik-topik itu dibagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan domainnya. Misalnya domain personal, yang terpisah dari pembahasan mengenai komunikasi antarpersonal.

Dobelli mengatakan, manusia punya kecenderungan mengakurkan informasi baru tentang sesuatu dengan apa yang sudah mereka yakini sebelumnya. Ini disebutnya confirmation bias (halaman 19). Sulit bagi kita menerima informasi baru, apalagi yang bertentangan dengan pengetahuan sebelumnya meskipun pengetahuan lama ini belum tentu benar. Ini merupakan respon yang wajar untuk segala yang baru. Katanya, “Prejudice and aversion are biological responses to anything foreign.” (halaman 239). Sedangkan, untuk maju diperlukan pola pikir yang mendukung.

Kita juga harus realistis. Artinya, fokuskan hanya pada hal-hal penting yang berada dalam jangkauan tangan dan kemampuan (halaman 51). Sisanya, bukan lagi tanggung jawab kita. Que sera, sera.

Dengan bersikap realistis, kita menyadari bahwa sebaik apapun kita melakukan sesuatu, hasilnya belum tentu seperti yang kita harapkan. Hasil tak serta merta merefleksikan keputusan yang kita ambil. Hasil buruk bukan berarti keputusan yang kita ambil untuk melakukannya itu buruk. Pun sebaliknya. Never judge a decision based on the result. (halaman 61)

Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah persepsi subyektif yang kita miliki. Sikap kita terhadap seseorang akan berbeda jika kita menganggap orang tersebut menarik, berasal dari suku atau tempat yang sama, memiliki minat yang sama (halaman 64-65). Kadang kala, halo effect juga berperan. Itu lho, kesan yang diperoleh hanya dari penampilan fisik yang sekilas terlihat saja, tanpa tahu informasi lebih jauh, misalnya dari wajah, pakaian, dan asesori atau perhiasan.

Dalam buku ini juga disinggung mengenai pola pikir hyperbolic discounting (halaman 154), yang sepertinya sering terjadi di sekitar kita. Pernah dengar “Bolehlah hari ini makan banyak, toh besok mulai diet lagi”? Atau “Tak apa bulan ini beli tas seharga sekian, bulan depan kan bisa berhemat “? Nah, itu beberapa contoh hyperbolic discounting.

Sikap positif seseorang juga dipengaruhi oleh kemampuannya dalam bidang tertentu (circle of competence). Ini yang sering dilupakan orang. Mata hati kita tertutup iri terhadap pencapaian orang sehingga lupa bahwa kita juga bisa menjadi raja di bidang yang kita kuasai tersebut.

Selain itu, Dobelli juga menyinggung sedikit tentang komunikasi antarpersonal. Keberhasilan komunikasi mempengaruhi lancar tidaknya penyampaian perintah atau permintaan kepada orang lain. C’est le ton qui fait la musique (halaman 125).

Sebagai penutup, satu hal yang paling saya suka dari buku ini adalah adanya bab awal dan akhir yang menurut saya lebih mirip pengingat. Di bagian awal (halaman 6) tertulis “Look in the mirror and be honest about what you see” dan di bagian akhir (halaman 255) ada “Procrastination is idiotic because no project completes itself”. Sadari keadaan dan kemampuan diri sendiri dan, seperti halnya buku-buku lain, buku ini pun akan percuma jika kita tak melakukan apa pun seusai membacanya. Tapi, seperti judul tulisan ini, karena berpikir (jernih) pun ada seninya, tak semua orang memiliki kadar yang sama dalam memaknai kalimat itu atau bahkan buku ini.

Dan, hari ini seorang sahabat saya menyapa. “Don’t forget reading!”, katanya.

Siap! Mari membaca (lagi) :)

Judul: The Art of Thinking Clearly
Penulis: Rolf Dobelli
Penerbit: Harper (2014)
Jumlah halaman: 358

3 Responses to Berpikir Pun Ada Seninya

  1. Maulana Taufik says:

    Hidup adalah seni, kata para bijaksanawan. Berpikir merupakan bagian dari hidup.

  2. […] dan informasi yang diketahui sebelumnya. Ini normal. Kecenderungan semacam ini disebut confirmation bias. Akibatnya, dalam beberapa adegan yang semestinya adalah adegan serius, terdengar tawa penonton […]

  3. […] hitam ini, lalu memutuskan membeli buku The Black Swan karena buku ini banyak disebut dalam buku The Art of Thinking Clearly yang saya baca sebelumnya. Semacam reaksi […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected