Jadi penyiar radio

Akhir pekan ini saya mendapat dua rejeki besar. Rejeki pertama adalah saya masuk studio radio lagi setelah berpuluh-puluh tahun. Bedanya, kalau dulu saya masuk studio untuk menyanyi, dan ini yang tidak dipercaya banyak orang, sekarang saya masuk studio untuk menggantikan teman saya Kang Fajar yang mestinya bertugas sebagai co-host acara Saung Nyerat. Rejeki kedua adalah saya harus membuat reportase. Keduanya adalah hal baru buat saya.

Rejeki Imlek

Dulu, setiap menjelang Imlek, pasti ada orang yang datang ke rumah saya untuk membeli buah srikaya langsung dari pohonnya. Dengan puluhan pohon yang kami miliki, jadilah kami ikut mereguk rejeki Imlek itu. Sekarang?

Reuni

Acaranya sendiri sudah terlaksana bulan Desember lalu, tapi baru sekarang saya menuliskannya. Setelah 22 tahun kami berpisah akhirnya saya bertemu dengan teman-teman SMA. Tidak semua bisa hadir karena satu dan lain hal. Beberapa tinggal di luar kota, luar Jawa, bahkan luar negeri. Namun acara tetap ramai dan seru. Berkat teknologi, kami bisa ‘bertemu’ dengan mereka.

‘Noticing’ Exercise

Istilah ini saya baca di majalah kesayangan edisi Oktober 2010. Tak sangka ternyata saya juga termasuk orang yang lalai terhadap masalah ini, sampai minggu lalu.

Teater Kampus: Sikap dan Tata Ruang dalam Simalakama


Siang ini saya mendapat undangan ulang tahun. Bukan ulang tahun biasa, karena yang merayakan adalah suatu komunitas, sebuah teater. Sebuah tanda bahwa sebuah Teater Karoeng masih mempertahankan degup kehidupannya dengan semangat nyala lilin yang tersisa di tengah mobat-mabitnya jaman yang makin tidak peduli pada makna. Sungguh hal yang patut diacungi jempol bahwa di zaman ketika pasar menjadikan segalanya sebagai komoditi, masih ada anak muda yang tergabung dalam Teater Karoeng, yang masih peduli untuk tetap berkesenian.