Centang Biru

Kemarin, sejak sore hingga malam hari, saya menikmati waktu bersama dua sahabat saya, Tiara (@havanatiara) dan Viera (@vierahmawati), setelah sekian lama tertunda karena kesibukan kami bertiga. Tiga perempuan bertemu, tentu bisa ditebak obrolan sampai ke mana. Salah satunya tentang etika komunikasi di media sosial. Tak heran, karena kami pengguna media sosial.

Obrolan tentang itu bermula ketika kami menyinggung mengenai sebuah aplikasi yang sejak beberapa waktu lalu menambahkan fitur baru berupa centang biru untuk pesan yang sudah dibaca. Dan, rasa penasaran saya terjawab sudah.

Ceritanya begini. Saya bingung karena ada pesan berwarna abu-abu di antara pesan berwarna biru. Logikanya, ketika lawan bicara saya yang sudah update aplikasi itu membuka percakapan kami, semua pesan akan terbaca dan warna yang muncul di perangkat saya adalah biru, bukan? Ternyata, salah satu kemungkinannya adalah, dia menghapus pesan saya tanpa membacanya. Sedih.

Kalau saja kita tahu, orang lain meluangkan waktu dan tenaga untuk menulis pesan. Bisa jadi pesan itu sangat penting buatnya. Bisa jadi sesuatu yang mendesak. Bisa jadi perlu keberanian dan usaha yang tidak mudah untuk menuliskannya. Bayangkan apa yang dirasakannya jika kita menghapus sebelum membaca pesan-pesan itu.

Saya jadi ingat salah satu cuitan yang saya baca, bahwa komunikasi di dunia offline dan online pada dasarnya sama. Aturan dan etika keduanya pun tak jauh berbeda. Yang membedakan hanya media yang dipakai.

Hymes, sosiolinguis yang lahir di Oregon tahun 1927 dan dikenal dengan akronim SPEAKING yang diusulkannya dalam bahasan mengenai komunikasi, memasukkan masalah ini dalam norm. Norm atau norma ini terkait dengan aturan sosial dan tindakan partisipan dalam sebuah proses komunikasi.

Buat saya, membuang pesan sebelum dibaca itu ibarat kita membuang muka atau pergi begitu saja ketika lawan bicara kita menyampaikan sesuatu. Tak ada orang yang mau diperlakukan seperti itu. Dan, tak ada orang yang lebih sombong daripada orang yang melakukan itu.

Drama ya? :) :)

3 Responses to Centang Biru

  1. wongkamfung says:

    Tak kandhani. Sing sabar. Ra sah kemrungsung. ;)

    Salam persahablogan,
    @adiwkf

  2. Viera says:

    ini mana bagian ‘suara’ nya….

  3. @havanatiara says:

    See? Terjawab sudah. Rude, yes. Tp setidaknya tau tipe orang lagi bagaimana :-) salam dari lagu2nya Passenger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected