Critical Literacy

Seharusnya hari ini adalah hari yang menenangkan karena sudah memasuki masa tenang menjelang pemilihan presiden hari Rabu, 9 Juli. Namun ternyata ketenangan jauh dari yang diharapkan. Banyak orang, termasuk saya, menjadi makin resah. Berita yang kami dengar dan baca makin membuat suasana tak nyaman. Semua itu berkat kemajuan teknologi, yang tentu di dalamnya mencakupi juga penggunaan media sosial. Kemajuan yang tidak berbanding lurus dengan kemajuan sikap pengguna.

Tentu akan ada yang berkomentar “Tutup saja semua akun media sosial, habis perkara”, namun masalahnya tidak sesederhana itu. Banyak orang menggunakan media sosial untuk kepentingan pekerjaan juga.

Dengan kemajuan teknologi, informasi menjadi sangat mudah didapat. Sayangnya, dengan teknologi pula informasi itu semakin mudah dimanipulasi. Sayangnya pula, kadang kita yang tidak mau repot mencari tahu kebenaran sebuah berita. Di twitter misalnya, sebuah tautan sering kali di-RT (retweet) tanpa dibaca isi beritanya lebih dahulu. Dengan traffic yang demikian pesat di media ini, tentu penyebarannya juga akan menjadi sangat cepat.

Kalau saja kita mau tahu, ada yang dikenal dengan istilah critical literacy. Sebuah teks atau gambar misalnya, seharusnya ditelaah lebih dalam dari hanya sekadar teks atau gambar yang terlihat oleh mata. Artinya, kita sebaiknya kritis mencari tahu kebenaran dan mencerna pesannya dengan pikiran jernih. Critical literacy ini juga meliputi pemahaman atas kondisi sosial politik di sekitar kita (Vasquez dan Felderman, 2013).

Di saat-saat menjelang peristiwa besar seperti pemilihan presiden misalnya, tiba-tiba kita menjadi lebih sensitif dan mudah sekali terbakar. Semuanya perlu kontrol diri yang tidak main-main, seperti yang pernah saya tulis di dinding facebook saya bulan Mei lalu.

fb

Saya punya anak yang akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali hari Rabu mendatang. Dan, saya sangat khawatir dengan begitu banyak informasi yang tersaji di depan matanya. Di usianya, tak banyak yang dia alami sedangkan yang bisa dibacanya kini belum tentu semuanya mengabarkan kebenaran.

Ah, tapi tak baik juga terus-menerus gelisah. Mari berdoa. Semoga segalanya berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan, demi masa depan negeri ini.

 

9 Responses to Critical Literacy

  1. T says:

    Ada dua ciri orang yang susah di nasehatin :
    – yang lagi jatuh cinta
    – pendukung capres

    hehehe

  2. Lilis says:

    A good reminder for me. Thanks Sis!

  3. Cak Oyong says:

    Keresahan yg sama Mbk. Bakal ada chaos sepertinya setelah Pilpres nanti.

  4. MT says:

    pemilu kali ini memang paling melibatkan banyak orang secara terbuka, terutama di media sosial. mungkin itu yg membuat kita menyaksikan banyak hal yg kita setujui maupun yg bersinggungan dg batas toleransi.

    kita jadikan catatan saja.

  5. […] setahun lalu saya pernah menulis tentang critical literacy karena resah melihat berita yang terpapar di banyak media kala itu. Satu esensi yang sama bisa […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>