Di Balik 98

di balik 98Minggu ini saya dua kali menonton bioskop dan dua kali pula kecewa. Film pertama, yang saya tonton bersama beberapa teman, adalah Di Balik 98. Film kedua, film asing yang mengambil latar tempat di Jakarta untuk beberapa adegan, tak perlulah saya ceritakan di sini.

Buat saya, selain sebagai hiburan, film juga berfungsi sebagai media belajar; dan saya tak mendapati itu dalam  film Di Balik 98 yang katanya bergenre drama ini. Dari judulnya, sudah bisa ditebak kisah apa yang bakal dituturkan oleh film ini. Jika tidak tentang peristiwa bersejarah itu, sudah pasti film ini menjadikannya sebagai latar.

Film yang disutradarai oleh Lukman Sardi  ini sebelumnya berjudul Di Balik Pintu Istana. Film ini memasang beberapa bintang tenar, di antaranya Chelsea Islan dan Boy William. Selain kedua pemain yang berperan sebagai mahasiswa itu, ada beberapa karakter utama yang menjadi penggerak cerita sebagai tokoh sentral dalam film ini: Donny Alamsyah dan Fauzi Baadila sebagai tentara, Alya Rohali dan Ririn Ekawati sebagai petugas rumah tangga istana dan Teuku Rifnu Wikana sebagai pemulung yang mewakili rakyat kecil.

Di Balik 98 berlatar peristiwa yang terjadi pada sekitar bulan Mei 1998. Reformasi yang terjadi pada masa itu menyisakan pilu bagi banyak pihak karena terpisah dari anggota keluarga baik karena meninggal maupun karena tidak diketahui keberadaannya hingga kini.

Judul film ini menjadi bumerang karena penonton telanjur berharap banyak dari film yang memasukkan peristiwa  penting itu ke dalam penceritaan. Penonton yang sudah cukup dewasa ketika peristiwa tahun 1998 itu terjadi akan mencocokkan apa yang dilihatnya dalam film dengan  pengetahuan dan informasi yang diketahui sebelumnya. Ini normal. Kecenderungan semacam ini disebut confirmation bias. Akibatnya, dalam beberapa adegan yang semestinya adalah adegan serius, terdengar tawa penonton karena apa yang dilihatnya dianggap menggelitik.

Sebagaimana layaknya wacana, sebuah film juga dituntut kohesif dan koheren. Salah satunya dari segi pemakaian bahasa, yang tentu saja disesuaikan dengan aspek-aspek lain di dalamnya seperti latar belakang penutur dan kawan bicara. Dalam dialog antara si pemulung dan anaknya misalnya, frasa awake dhewe diterjemahkan menjadi kamu. Padahal, arti keduanya sangat jauh berbeda.

Dalam dialog lain, tokoh Diana mengatakan, “Anak-anak adalah amanat” . Saya tidak yakin kata amanat di sini tepat, karena kata tersebut berarti pesan, perintah atau wejangan. Barangkali yang dimaksud adalah kata amanah, yang artinya sesuatu yang dipercayakan.

Satu hal lain yang mengganggu adalah ketika Diana melampiaskan emosinya yang meluap-luap kepada kakaknya. Sejak kapan seorang gadis bisa bebas marah-marah, membentak dan menunjuk-nunjuk kakak ipar laki-lakinya yang berusia lebih tua darinya di depan banyak orang? Apalagi si kakak yang berprofesi sebagai tentara ini dalam posisi sedang menjalankan tugas.

Benar yang dikatakan sahabat saya tiga tahun lalu, “Menduga penonton tak mampu mencerna apa yang disajikan pelaku seni adalah suatu kesombongan yang memalukan.”  Benar juga apa yang saya baca di cuitan teman saya @bukik tempo hari, “Apapun profesimu, riset adalah fondasinya.” Jika pembuat film melihat penonton sebagai penikmat seni yang cerdas dan riset dilakukan lebih mendalam, film ini pasti akan lebih menarik.

Secara keseluruhan, cerita yang mengangkat keluarga Salma-Bagus dan adik iparnya, Diana, kurang kuat menjadikan film ini sebagai film drama. Kisahnya kurang menggigit. Konflik internal keluarga mereka mengenai Bagus yang kerap meninggalkan istri demi tugas terkesan berlebihan. Bukankah mereka mestinya sudah paham risiko memiliki anggota keluarga seorang tentara? Entahlah. Barangkali karena dari awal saya tidak menemukan appetizer yang merangsang untuk menikmati film ini, waktu selama 106 menit itu terasa lama sekali.

Tapi, walau bagaimanapun, keberanian mereka mengangkat peristiwa tahun 1998 sebagai latar film tetap layak diapresiasi. Pro dan kontra sudah pasti akan ada.

Bisa jadi, Di Balik 98 ditafsirkan Peristiwa 98 yang Dibalik karena dalam judul itu kata balik ditulis serangkai dengan awalan di-. Maksudnya, interpretasi penonton dibalikkan dari apa yang selama ini diyakininya. Di sini, kata itu sengaja saya tulis terpisah.

Begitu.

4 Responses to Di Balik 98

  1. Tetty yukesti says:

    Setuju riset yang mendalam sangat diperlukan sebelum membuat sebuah karya; tulis atau film. Dan membuat cerita yang menarik konfliknya harus menggigit…penikmat seni akan kecewa karena beyond expectation dan aku sering mengalami kecewa.

  2. erfano says:

    Wah…sudah nonton film ini toh…. Riset sebuah film itu penting sekali. Selain itu, memperhatikan hal- hal kecil yg mungkin luput dr sutradara sehingga menggelitik bagi penonton yg jeli. Banyak film kita yg kadang logika bertuturnya masih kurang, barangkali sutradara mengganggap penonton hanya sekedar cari hiburan….

  3. Tiara says:

    Mungkin (imso : in my Sotoy opinion) sutradaranya sangat hati-hati (atau takut) untuk memasukkan hal2 yang terjadi saat itu secara gamblang.
    Atau benar, kurang riset , mungkin setelah riset malah jiper?

    -T

  4. […] selesai juga buku yang saya beli untuk teman menunggu jam tayang film Di Balik 98 minggu lalu ini saya baca. Saya memang pernah mendengar tentang fenomena angsa hitam ini, lalu […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected