Indonesia Bicara Baik

KHNIni adalah hari kedua sekaligus hari terakhir Konvensi Nasional Humas 2017 yang bertempat di IPB International Convention Center (IICC). KNH kali ini mengusung tema #IndonesiaBicaraBaik, diikuti sekitar 500 orang dan menghadirkan pembicara dan praktisi yang terbagi menjadi beberapa sesi.

Hari pertama (Senin) dibuka dengan sambutan dari dari Kementerian Kominfo yang disampaikan langsung oleh Menteri Rudiantara, mengangkat tema Membangun Komunikasi Masyarakat dalam Era Digital. Lalu, dilanjutkan dengan sesi-sesi: Peta Jalan Kehumasan Indonesia; Solusi Aplikasi untuk Humas Zaman Sekarang; Partisipasi Media dalam Membangun #IndonesiaBicaraBaik; #IndonesiaBicaraBaik dalam Perspektif Industri Kreatif, Keunggulan Budaya dan Inovasi; Semangat Millenials, Semangat #IndonesiaBicaraBaik – Kiprah Kaum Muda dalam Membangun Reputasi Indonesia.

Hari kedua (Selasa) diawali dengan sambutan dari Kementerian Pertahanan. Sesi berikutnya Industri dalam Membangun Brand Indonesia, Pemimpin Muda #IndonesiaBicaraBaik, #IndonesiaBicaraBaik dalam Era Digital – Fungsi Strategis Komunikasi Sosial, dan ditutup dengan #IndonesiaBicaraBaik dalam Pluralisme Kita.

Dari acara selama dua hari ini, ada beberapa catatan kecil yang saya dapatkan, yang sebenarnya lebih merupakan pengingat kembali (reminder). Memang fokus pembicaraan adalah bagaimana bicara baik terkait penggunaan media, namun ini sama sekali bukan hal baru karena bicara langsung dan bicara melalui media daring (online) etikanya tidak jauh berbeda.

Pertama, mestinya, bicara baik dilakukan oleh semua orang. Banyak pihak yang terwakili di dalamnya ketika kita bicara: personal dan profesional. Ketika kita bicara dalam kapasitas pribadi menyampaikan pendapat pribadi pun orang lain tetap akan mengaitkan dengan pekerjaan kita dan di mana kita bekerja.

Kedua, bicara baik dilakukan dalam segala situasi. Kendalikan emosi menjadi poin penting. Bahkan, ketika marah atau kesal, kita tidak menyampaikannya dengan memaki.

Ketiga, bicara baik dilakukan di semua media, baik media berita maupun media sosial. Media berita sebaiknya menjadi peneduh suasana, bukan penyulut dan peruncing masalah. Media sosial demikian. Pemilik akun media sosial sebaiknya lebih berhati-hati baik dalam menulis di akunnya sendiri maupun ketika membagikan berita kepada orang lain. Cek kebenarannya. Kalaupun benar, pertimbangkan lagi perlunya berita itu dibagikan.

Keempat, akan lebih efektif dan efisien, jika bicara baik diimbangi juga dengan berbuat baik. Poin ini rasanya tak perlu dijelaskan lagi, karena berbicara pun termasuk melakukan perbuatan, bukan?

Secara keseluruhan, acara ini sangat positif. Dengan banyaknya panelis dengan kompetensi di bidangnya masing-masing memungkinkan peserta belajar banyak dari mereka. Dan, akan makin lengkap jika ditambahkan juga pandangan dari sisi bahasa. Bicara baik termasuk menggunakan bahasa yang baik.

Penggunaan bahasa yang baik ini penting sekali, karena humas pada hakekatnya adalah penyambung lidah. Mereka berhubungan dengan banyak pihak. Dengan bahasa yang baik (dan benar), mereka juga sekaligus berperan sebagai panutan yang sangat mungkin diikuti oleh orang lain. Kata menyampaikan tentu lebih tepat digunakan dibanding kata men-deliver, misalnya.

Memang, ada fenomena bahasa yang dikenal dengan alih kode dan campur kode, yaitu ketika penutur memakai dua bahasa atau lebih ketika berkomunikasi. Namun, tentu pemakaiannya tidak bisa kita pukul rata.

Saya yakin setiap orang adalah pelaku humas bagi dirinya sendiri. Tidak ada ruginya hal yang disampaikan kepada khalayak luas adalah sesuatu yang baik dan benar.

Selamat, Perhumas! Acaranya keren! Mari bicara baik dengan bahasa yang baik. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>