Korek Api

Suatu sore, selepas mengajar, saya dan beberapa teman berbincang santai. Dan, seperti biasa diskusi menghangat karena topik yang diangkat melahirkan pro dan kontra.  Salah satu topik yang menjadi perbincangan sore itu adalah bagaimana sebagian orang sulit memisahkan peran yang disandangnya ketika berada dalam situasi berbeda. Ketika diharapkan berperan secara personal, mereka tetap berlaku sesuai profesinya.

Saya beberapa kali dibuat jengah dengan orang semacam ini. Pernah ada teman yang bertanya ini-itu seolah-olah saya adalah narasumber yang diburunya.  Sebenarnya bukan hanya pertanyaannya yang menurut saya tidak pantas diajukan karena terlalu pribadi, tapi caranya menyampaikan pertanyaan itu sungguh sangat mengganggu.

Dalam ilmu pragmatik, ada prinsip yang banyak dirujuk ketika bicara mengenai komunikasi, yaitu prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Grice. Prinsip kerja sama ini terdiri dari empat maksim, yaitu maksim relevansi, maksim kualitas, maksim kuantitas, dan maksim cara.

Dari keempat maksim itu, yang paling erat kaitannya dengan etika berkomunikasi adalah maksim cara. Maksim cara (maxim of manner) berhubungan dengan cara kita menyampaikan sesuatu. Ungkapan bela sungkawa tentu tidak disampaikan dengan gegap gempita, riang gembira. Bertanya kepada teman dalam suasana santai tentu akan berbeda caranya ketika kita mengajukan pertanyaan dalam suatu interogasi polisi. Kurang lebih begitu. Jika tidak sesuai dengan cara yang semestinya, dianggap sebagai pelanggaran.

Pelanggaran maksim ini lazim terjadi, disengaja maupun tanpa sengaja. Pelanggaran yang disengaja biasanya dilakukan untuk melahirkan efek tertentu. Humor, misalnya, sering kali memanfaatkan pelanggaran maksim-maksim ini.

Dalam proses komunikasi seperti itu, pemahaman partisipan mengenai simbol juga sangat berperan. Simbol atau tanda ini bisa berupa ungkapan verbal, bisa juga berupa gesture atau bahasa tubuh. Jika teman kita tidak sedikit pun bercerita mengenai sesuatu, barangkali ia memang tak ingin berbagi dengan kita.

Ternyata, selain berhadapan dengan orang-orang yang menyerupai kompor karena lebih sering memperkeruh suasana, kita juga sangat mungkin berhadapan dengan mereka yang hobi mengorek-ngorek. Bagi mereka yang tidak suka dicecar dan dihujani dengan berondongan pertanyaan investigatif, orang-orang ini ibarat korek yang menyulut sumbu. Sumbu emosi. :)

2 Responses to Korek Api

  1. wongkamfung says:

    Apalagi di dekat sumbu itu ada bensin. ;)

    Salam persahablogan,
    @adiwkf

  2. Tiara says:

    ini siapa ciy wongkamfung , gengges sekali. banci tampil *kibas poni*
    :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected