Mata Perempuan

image

Hari ini saya senang. Meskipun ada beberapa yang terlewat dari rencana yang saya buat, tapi secara keseluruhan hari ini menyenangkan. Urusan pendaftaran online perpanjangan paspor, hotel dan tiket untuk bepergian di akhir bulan sudah beres. Kemudian, seorang teman mengabarkan wawancara pekerjaan yang dijalaninya hari ini lancar. Dan, ditutup dengan kabar lukisan keren karya sahabat saya seniman serba bisa, mbak Irma Haryadi, ini siap diambil. Ia sempat menambahkan captionA little lady with a very big heart.” Aih! Saya sungguh tersanjung, meski menurut saya itu sangat berlebihan. Terima kasih tak terkira. Peluk!

Saya suka sekali dengan lukisan ini. Mata saya tampak lebih bercahaya, tidak seperti komentar teman saya. Ia bilang, “Matamu sedih amat. Ceria dong.” Bagaimana mungkin saya berbinar-binar ketika topik pembicaraan adalah sesuatu yang membuat kita berpikir ulang mengenai nalar dan nurani? Betapa kita bisa saja lupa dua hal itu jika sudah menyangkut urusan perut. Sampai kemudian kami mengaitkannya dengan pembedaan perempuan dan laki-laki dalam menyikapi hal demikian.

Stereotyping memang tentang kekhasan individu. Ketika kekhasan ini bertemu dengan fakta lain yang serupa, kita lantas menganggapnya sebagai ciri suatu komunitas yang lebih besar. Perempuan itu begini, laki-laki begitu. Orang Sunda suka pete. Orang Jawa begini. Semua kalimat ini muncul karena kita bertemu orang-orang dengan latar belakang sama melakukan hal serupa.

Penyebutan seperti ini tentu tidak selamanya menguntungkan. Kalau yang disebut adalah sifat positif, tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika kata sifat yang muncul adalah tentang sesuatu yang negatif, baru kita merasa tidak nyaman. Penggunaan kata tertentu ketika kita bicara atau menulis akan membuat pendengar atau pembaca mengidentifikasi diri apakah termasuk ke dalam subyek yang dimaksud itu. Misalnya, ketika membaca atau mendengar tentang perempuan, ibu, Sunda, Jawa, atau Indonesia, saya akan menempatkan diri di mana saya berada. Included atau excluded. Begitu kata Richardson (2007).

Jadi, kalau teman saya masih berkomentar tentang mata saya saja dan tidak mengatakan sesuatu yang umum tentang mata perempuan, bisa jadi karena ia belum bertemu perempuan lain yang matanya seperti mata saya.

Ah, sudahlah. Saat ini mata saya memang sedang bercahaya karena bahagia. God is good.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected