Matinya Sang Pengarang (Roland Barthes)

Roland-Barthes-001

Tulisan ini saya alihbahasakan dari The Death of the Author (Routledge, 1977), dapat dibaca dalam buku Maman S. Mahayana Pengarang Tidak Mati (Nuansa, 2012).

Dalam tulisan Sarrasine Balzac, yang bertutur tentang seorang castrato yang diibaratkan sebagai wanita, tertulis: ‘Dia seorang wanita, dengan ketakutan, gagasan-gagasan yang tak masuk akal, kekhawatiran yang hanya berdasar insting, keberanian yang tanpa memperhitungkan konsekuensi, ketertarikan berlebihan akan hal-hal kecil, dan sensibilitas yang tinggi.’ Siapa yang mengatakan demikian? Apakah tokoh hero dalam cerita di balik bayang castrato yang tersembunyi di balik seorang wanita?

Apakah Balzac sebagai individu, dengan pengalaman pribadi dan filosofi seorang Wanita? Apakah Balzac sebagai pengarang yang meletakkan ide ‘sastra’ pada femininitas? Apakah kearifan universal? Psikologi romantis? Kita tak pernah tahu, karena suatu alasan yang tepat bahwa menulis adalah proses destruksi segala sesuatu dari segala penjuru. Menulis adalah sesuatu yang netral, terdiri dari beragam ikhwal dan bias, di mana semua identitas hilang dan berganti dengan identitas baru.

 Begitulah kenyataannya. Segera setelah sesuatu ditulis, pengarang tak lagi berhubungan secara langsung pada realitas. Namun fenomena ini makin meluas; dalam masyarakat etnografis tanggungjawab dari sebuah pemaparan bukan pada seseorang tapi pada seorang mediator, shaman atau penghubung yang memiliki penguasaan mengagumkan atas kode narasi. Pengarang adalah sosok modern, produk masyarakat kita, yang muncul dari Jaman Pertengahan dengan empirisme Inggris, rasionalisme Perancis dan keyakinan personal dari gerakan Reformasi, yang memunculkan prestis individual dari seseorang. Dengan demikian, sangatlah logis bahwa dalam dunia sastra seharusnya positivisme, epitome dan kulminasi ideology kapitalis seperti ini melekat pada diri seorang pengarang. Ia masih berkuasa dalam sejarah sastra, biografi, interview, majalah, sebagaimana tingginya minat sastrawan menyatukan diri dengan karyanya melalui catatan harian dan memoir. Wajah sastra ditemukan dalam budaya sederhana berpusat secara tirani pada pengarang, pada dirinya, hidupnya, seleranya, nafsunya, sementara kritik sastra masih bertahan pada pernyataan bahwa karya Baudelaire adalah kegagalannya sebagai manusia, karya Van Gogh adalah kegilaannya, dan karya Tchaikovsky adalah cerminan sifat buruknya. Penjelasan dari sebuah karya selalu dicari dari orang yang menghasilkannya, dan ini adalah hal terakhir yang dilakukan oleh seseorang, yaitu sang pengarang yang ada dalam diri kita, melalui alegori transparan dari sebuah fiksi.

Meski aliran Pengarang tetap kuat, kritik yang banyak dilakukan tidak menyebutkan bahwa sebagian penulis telah lama berusaha melonggarkan keterikatan dengan teks. Di Perancis, Mallarme adalah penulis pertama yang melihat pentingnya mengganti bahasa sebuah teks dengan bahasa kaum yang dianggap sebagai pemiliknya. Baginya, dan bagi kita, bahasalah yang penting, bukan pengarang. Menulis adalah usaha mencapai tahap di mana bahasa menjalankan fungsinya, bukan ‘saya’ (sama sekali tidak mengebiri objektifitas novelis realis). Mallarme meminimalkan peran pengarang dalam hal kepenulisannya (dan mengembalikan tempat pembaca). Valery, sesuai psikologi Ego, sangat melemahkan teori Mallarme tapi seleranya atas sesuatu yang klasik membuatnya menjadi retoris. Ia tak pernah berhenti mempertanyakan sang Pengarang dan interioritas penulis nampaknya hanya tahayul. Proust, lepas dari karakter psikologis dari apa yang disebutnya analisis, terkait dengan kekaburan yang ekstrim dalam hubungan antara penulis dan tokohnya; dengan membuat narator bukan sebagai yang terlihat dan terasa atau bahkan sebagai pihak yang menulis, tapi dia yang akan menulis (lelaki muda dalam novel ini – tidak jelas berapa usianya dan siapa dia – ingin menulis tapi tak bisa; novel ini berakhir justru ketika penulisan akhirnya menjadi mungkin). Proust memberikan warna epik pada penulisan modern. Dengan pembalikan yang radikal, alih-alih menempatkan hidupnya ke dalam novel, sebagaimana lazim dilakukan, ia membuat hidupnya sebuah model untuk bukunya; sehingga jelas kepada kita bahwa Charlus tidak meniru Montesquiou tapi Montesquiou-lah yang diturunkan dari Charlus, dalam realitas sejarahnya yang anekdotis. Surealisme, tak bisa memberikan tempat tertinggi pada bahasa (bahasa menjadi sistem dan tujuan, secara romantik, sebuah subversi langsung dari kode-kode ilusi: sebuah kode yang tak dapat dirusak, hanya ‘dihentikan’). Bahasa berkontribusi pada penciptaan image Pengarang dengan terus menerus menyuguhkan kekecewaan atas harapan (yang diusung oleh para surealis sebagai ‘jolt’), dengan menulis secepat mungkin apa yang tidak disadari (penulisan otomatis), dengan menerima prinsip dan pengalaman beberapa orang yang menulis secara bersama. Lepas dari sastra, linguistik telah membuat destruksi Pengarang dengan analisis bahwa pelafalan tak akan berarti tanpa adanya kebutuhan penutur akan hal itu. Secara linguistik, pengarang tak pernah lebih dari sekadar penulisan, seperti halnya kata saya tak lebih dari sekedar pelafalan kata tersebut: bahasa mengenal ‘subjek’, bukan ‘individu’, dan subjek ini, di luar palafalannya, membuat bahasa menjadi ‘padu’.

Penafian Pengarang (Brecht menyebutnya dengan istilah ‘jarak’ yang unik, Pengarang mengecil seperti miniatur di panggung sastra) tak hanya sebuah fakta sejarah atau sebuah proses menulis; tapi mentransformasikan teks modern (atau – dalam kata lain – teks dibuat dan dibaca sedemikian rupa pada setiap level tanpa memandang kehadiran pengarang). Kesementaraannya berbeda. Pengarang selalu dianggap cermin bukunya: buku dan pengarang secara otomatis berdiri di satu garis yang terbagi antara sebelum dan sesudah proses menulis. Pengarang merawat bukunya, artinya ia ada sebelum bukunya. Ia berpikir, menderita, hidup demi buku tersebut, dalam hubungan yang sama dengan hubungan antara ayah dan anak. Sebaliknya, penulis modern lahir dengan teks yang ditulisnya, bukan subjek dengan buku sebagai predikat. Pada kenyataannya penulisan bukan lagi pencatatan, notasi, representasi, ‘penampilan’ (seperti yang dikatakan Classics); namun mengacu pada filosofi Oxford, menyatakan performatif sebagai bentuk kata kerja yang langka (secara khusus dilakukan oleh orang pertama dalam kala kini) yang merupakan tindakan mengujarkan sesuatu, misalnya I declare of kings atau I sing of very ancient poets. Penulis modern tidak percaya bahwa tangannya terlalu lamban untuk pikiran atau hasrat menulis yang dimilikinya yang membuatnya harus menahan diri. Sebaliknya, tangan itu mengungkapkan gaya penulisan (bukan hanya ekspresi), yang berasal dari bahasa.

Kita tahu kini bahwa sebuah teks bukan hanya rangkaian kata-kata dengan satu makna yang ‘sakral’ (‘pesan’ dari sang Maha Pengarang) tapi sebuah ruang multi-dimensi yang memungkinkan beragam bentuk, tak satupun yang asli, yang berbaur dan berbenturan. Teks adalah sebuah kutipan yang diambil dari budaya yang tak terhitung jumlahnya. Sama halnya dengan Bouvard dan Pecuchet, para peniru abadi, yang sublim namun lucu dan kekonyolannya menunjukkan kebenaran sebuah penulisan. Penulis dapat meniru sebuah gesture. Satu-satunya kekuatannya adalah mencampur gaya penulisan yang saling melengkapi dengan tak pernah bertumpu hanya pada salah satu di antaranya. Jika ingin mengekspresikan dirinya, seharusnya ia tahu bahwa setidaknya jiwa dari ‘sesuatu’ yang ingin ia ‘terjemahkan’ adalah sebuah kamus, kata-katanya bisa diterangkan melalui kata-kata lain, dan hal inilah yang terjadi pada Thomas de Quincey muda. Ia sangat mahir berbahasa Yunani untuk menerjamahkan ide dan image modern ke dalam bahasa yang sudah mati. Sebagaimana diutarakan oleh Baudelaire (dalam Paradis Artificiels), ‘Ia menulis sebuah kamus yang lebih lengkap dibanding yang dihasilkan dari sastra murni’. Penulis tak lagi berkarya dengan hasrat, humor, perasaan, kesan, namun lebih tergantung pada kamus ini, yang menjadi sumber baginya menulis tanpa henti. Hidup tak lebih dari tiruan sebuah buku.

Jika Pengarang sudah tak berperan, pengungkapan makna sebuah teks menjadi tak lagi berguna. Untuk menciptakan sebuah teks, Pengarang membuat batas pada teks itu dan melengkapinya dengan sebuah penanda akhir. Konsepsi semacam ini sangat sesuai dengan kritik, membuatnya menguak sang Pengarang (masyarakat, sejarah, jiwa, kebebasan) di balik sebuah karya. Jika demikian, teks akan mudah dijelaskan dan ini adalah kemenangan kritik sastra. Kekuasaan Pengarang dan kritik sastra sama besarnya, demikian juga saat ini ketika peran keduanya dipertanyakan. Dalam keberagaman penulisan, segala sesuatu harus dilihat dari banyak sisi, dengan struktur yang jelas. Ruang menulis harus diperluas. Menulis terus mengasah kemampuan mengungkapkan pesan. Sastra (atau proses menulis) tidak mengungkap sebuah ‘rahasia’ makna sebuah teks (dan dunia sebagai sebuah teks), namun membebaskan aktifitas anti-teologi. Ini adalah sebuah aktifitas yang sangat revolusioner karena menolak makna, yang artinya menolak Tuhan dan segala hukumnya.

Mari kita kembali ke kalimat Balzac. Jawabannya adalah pembaca. Penelitian terkini (J.P. Vernant) menunjukkan ketaksaan dari sebuah tragedi Yunani bahwa teks dirangkai dari kata-kata dengan makna ganda yang setiap tokohnya mengerti satu satu sama lain (kesalahpahaman adalah sesuatu yang ‘tragis’). Namun ada seseorang yang mengerti makna setiap kata dan mendengar tokoh yang berbicara di depannya – seseorang ini adalah pembaca (atau pendengar). Hal ini membuka keberadaan total sebuah penulisan: sebuah teks melibatkan proses penulisan yang beragam, bersumber dari banyak budaya dan memperlihatkan hubungan dari sebuah dialog dan parodi. Ada satu tempat di mana keberagaman ini berfokus dan tempat itu adalah pembaca, bukan pengarang. Pembaca adalah ruang yang membuat sebuah tulisan menjadi utuh. Kepaduan sebuah teks bukan terletak pada asal namun pada tujuannya. Namun tujuan ini tak bisa lagi bersifat personal. Pembaca tak punya sejarah, biografi dan sisi psikologis. Ia hanya seseorang yang menyatukan jejak yang ia temukan dalam sebuah teks. Inilah mengapa kritik terhadap tulisan baru atas nama hipokrit kemanusiaan menjadi hak pembaca. Kritik klasik tak pernah memperhatikan pembaca; karenanya penulis adalah satu-satunya orang dalam dunia sastra. Kini kita mulai membiarkan diri kita tak lagi dibodohi oleh debat kusir yang sombong dari masyarakat mengenai sesuatu yang dikesampingkan, diabaikan, dibutakan, atau dimusnahkan. Kita harus memberi ruang pada tulisan dan membuang mitos bahwa lahirnya pembaca harus dibayar dengan matinya sang pengarang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected