Membaca epilog

Selalu ada hal yang menyenangkan ketika “bersentuhan” dengan buku. Kali ini, saya mendapat kesempatan menghadiri acara peluncuran “Kumpulan Cerpen Kompas 2012” berkat seorang sahabat, Maman S. Mahayana. Sahabat saya yang dahsyat ini sedang berada di Korea ketika acara berlangsung hari Kamis, 27 Juni 2013 lalu, jadilah undangannya saya pakai.

Buku kumpulan cerpen ini bertajuk Laki-laki Pemanggul Goni, diambil dari cerpen karya Budi Darma dengan judul yang sama. Itu artinya, cerpen ini adalah cerpen terbaik dari sekitar 48 cerpen yang dimuat di surat kabar Kompas selama tahun 2012 dan cerpen terbaik dari 20 cerpen yang ada di dalam buku ini.

Dengan panjang 52 halaman, sangat masuk akal jika epilog bertajuk “Potret Indonesia dalam Cerpen” ini mengupas banyak sisi. Dari bahasa (logika, metafora) sampai unsur intrinsik karya itu sendiri. Dan, ini membuat saya memilih membaca epilog (dulu) ketimbang membaca rangkaian kisah dalam buku ini.

Nama-nama penulis dalam buku ini cukup bervariasi. Dari nama yang sudah saya kenal sejak lama seperti Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma dan Martin Aleida, ada juga nama-nama yang baru saya kenal. Beberapa di antaranya masih belia.

Dari delapan poin pembahasan, semua bermuara ke satu hal: penulis. Bagaimanapun terbatasnya media yang hanya menampung 2.000 kata itu, penulis yang piawai tetap mampu menyuguhkan cerita yang memukau. Mereka memilah dan memilih fakta dan mengemasnya menjadi fiksi yang tetap membawa pesan kepada pembaca. Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen “Mayat yang Mengambang di Danau” dan Budi Drama dalam “Laki-laki Pemanggul Goni” mampu melakukannya.

Sebagaimana yang tertulis di sampul belakang antologi ini, unsur-unsur intrinsik tampil kompak, berjalin berkelindan membangun cerita. Namun, semua itu tak banyak berarti tanpa bahasa metaforis dan logis. Pun sebaliknya. Permainan bahasa yang kosong cenderung abai pada unsur lain. Cerpen “Angin Kita”, “Renjana”, “Pemanggil Bidadari” adalah beberapa contoh cerpen yang kurang kuat fondasi intrinstiknya. Maman S. Mahayana menulis:

Titik tumpunya jatuh pada permainan bahasa, tetapi tanpa disadarinya melalaikan unsur lain. Latar tempat dan karakteristik tokoh, tidak jelas, samar-samar, nukan lantaran hendak menghancurkan unikum atau memburu universalitas, melainkan lantaran terlalu sibuk mengurusi perkara bahasa. Ia terlena, bahkan juga narsis pada metafora yang diciptakannya sendiri, seolah-olah ia telah sampai pada puncak penggalian makna kata sampai ke sumsum tulang (halaman 237).

Dengan keberagaman tema, karakteristik tokoh, dan latar budaya, antologi cerpen Kompas 2012 ini merupakan “potret” Indonesia dengan segala heterogenitasnya.

Judul: Laki-laki Pemanggul Goni
Penerbit: Penerbit Buku Kompas (2013)
Jumlah halaman” 254 halaman

5 Responses to Membaca epilog

  1. Riska Suzana Devi says:

    Apa novel fantasi kesukaan Ibu? Mungkin bisa jadi rekomendasi. :D

  2. Tria Ruspa Dewi says:

    apakah ibu juga suka dengan karya-karya Pram?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected