Piknik

kopi cangkirBuat saya, piknik itu soal persepsi. Tidak selalu harus pergi secara fisik. Menikmati kopi, buku, film, dan hal menyenangkan lain bisa menjadi alternatif jika tidak memungkinkan bepergian. Tadi malam saya melakukannya dengan menjauhkan telepon dan menikmati film lama, serial Early Edition, lima episode berturut-turut.

Dalam salah satu episode itu, Marissa, tokoh perempuan tuna netra dalam film ini, mengatakan bahwa sering kali orang menganggap mereka yang buta pastilah bodoh. Padahal tidak selamanya demikian. Tapi, tentu tidak sepenuhnya salah. Mereka berasumsi demikian karena pengetahuan visual memang memberikan kontribusi terhadap pemahaman, termasuk ketika kita berkomunikasi. Ketika berkomunikasi, kita menggunakan elemen verbal dan nonverbal, yang salah satunya adalah gesture. Gesture ini tidak selalu bisa kita ketahui tanpa melihat.

Situasi yang bisa diasumsikan sama dengan kasus Marissa itu adalah ketika kita berkomunikasi  melalui pesan pendek atau telepon. Kita tidak bisa melihat gesture apa yang ditampilkan oleh lawan bicara di seberang. Belum lagi jika dikaitkan dengan latar. Kita tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, di mana, dan bersama siapa.

Saya punya cerita. Pernah suatu saat saya ingin mendisusikan sesuatu dengan seorang teman yang kebetulan tinggal di kota yang berbeda. Melalui pesan pendek, teman saya ini mengatakan bahwa ia masih berada di tempat bermain bersama anak-anaknya, namun akan pulang sebentar lagi. Itu pukul lima. Saya percaya saja karena sebelumnya ia mengeluh sakit mata dan harus menemui dokter untuk mendapatkan perawatan.

Pukul delapan lewat, ia memberitahu bahwa ia masih di tempat tersebut dan akan memerlukan setidaknya 1,5 jam untuk menuju rumah. Kemudian, saya mengusulkan waktu lain, entah kapan, karena sepertinya ia tidak bisa diganggu sedikitpun. Ia menjawab, “Kamu kenapa sih?” disertai penjelasan panjang lebar tentang apa yang harus diurusnya saat itu.

Ini yang saya sebut pengetahuan visual. Saya tentu tidak tahu bahwa ternyata sampai tiga jam lebih teman saya ini belum juga beranjak. Saya juga tidak tahu bahwa ia harus mengurus begitu banyak hal yang lebih mendesak dibanding yang akan saya diskusikan itu. Konyolnya lagi, saya hanya bisa membayangkan gesture apa yang menyertai ucapannya itu: roman muka yang garang, berkerut kening, tangan mengepal, bertolak pinggang, atau menunjuk-nunjuk saya karena kesal.

Joseph Walther dalam tulisannya yang terangkum dalam buku A First Look at Communication Theory mengenai social information processing theory mengatakan elemen visual dan auditoris sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Unsur ini penting baik ketika partisipan-partisipan itu bersemuka atau tidak. Jika tidak, mereka hanya bisa mengandalkan petunjuk verbal yang bisa mereka baca saja.

Jika sudah begitu, interpretasi mengenai informasi yang tertulis itu sepenuhnya menjadi hak pembaca (partisipan). Kalau saya menafsirkan bahwa teman saya ini sangat marah dan kesal, ya sah saja. Itulah mengapa kita perlu lebih berhati-hati ketika kita berkomunikasi melalui teks seperti ini. Peluang terjadinya salah paham sangat besar.

Ah, sudahlah. Mungkin saya memang perlu piknik lagi.

Mari ngopi! :) :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected