Resolusi Basi

the happiness projectSaya suka membaca. Sama sekali bukan hal baru. Kadang-kadang saya pinjam dari perpustakaan atau teman, tapi lebih sering saya membeli bacaan yang saya minati. Saya pembaca segala dan termasuk polygamist reader, biasa menikmati membaca beberapa buku sekaligus.

Kemarin, saya baru selesai membaca sebuah buku yang saya pinjam dari sahabat saya Tiara. Bukan buku baru, tapi isinya sangat bergizi. Inilah salah satu alasan mengapa saya baru selesai membaca setelah beberapa bulan. Saya sengaja menghematnya, tak ingin buru-buru habis.

Sebenarnya tak ada yang baru. Jika boleh mengungkapkannya dalam satu kata, kunci kebahagiaan ya bersyukur. Tapi, sering kali ini yang tak mudah dilakukan. Di sinilah buku The Happiness Project berperan sebagai pengingat. Dengan membaginya dalam 12 bagian (Januari-Desember), apa yang disampaikan dalam buku ini menjadi lebih mudah dicerna dan diikuti.

Banyak saran dalam buku ini yang pasti sudah kita ketahui. Manjakan diri sendiri sesekali. Maknai hal-hal kecil dan sederhana di sekitar kita. Orang yang bahagia biasanya tak akan terlalu perhitungan. Orang yang bahagia cenderung mudah bekerjasama dan menolong orang lain. Masalah hanya bisa diatasi jika kita bisa ditengarai. Dan, banyak reminder lain, salah satunya di halaman 273 tertulis, “One fact of human nature is that people have a negativity bias. We react to the bad more strongly and persistently than to the comparable good.” Terjemahan bebasnya kira-kira begini: salah satu sifat dasar manusia adalah memiliki bias negatif, kita bereaksi terhadap hal yang negatif lebih kuat dibanding reaksi atas sesuatu yang positif.

Buat saya, selain sebagai makanan untuk jiwa dan batin, buku ini juga membuat saya belajar kosakata baru. Satisficer dan maximicer, misalnya. Satisficer adalah mereka yang memutuskan melakukan sesuatu begitu kriteria yang mereka tetapkan telah terpenuhi, sedangkan maximicer adalah mereka yang selalu ingin membuat keputusan optimal. Meskipun kriteria mereka sudah terpenuhi, mereka akan mencari yang terbaik di antara pilihan yang ada. (h. 182)

Selain kosakata baru, saya juga menemukan pemaknaan dengan lebih mendalam mengenai kata yang sudah saya kenal sebelumnya. Kata goal dan resolution bukan kata yang baru saya dengar, namun penjabaran secara rinci di halaman 289 membuat saya berpikir (lagi).

Goal (tujuan) biasanya lebih spesifik dan mudah diukur. Misalnya, “Ikut lari marathon”. Sedangkan resolution (resolusi) adalah sesuatu yang terus kita lakukan. “Rajin berolahraga”, misalnya, akan sulit diketahui apakah sudah tercapai atau belum. Resolusi sifatnya berkelanjutan. Kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal; tapi begitulah resolusi. Selamanya merupakan tantangan.

Tak ada yang namanya resolusi basi. Ia akan terus menginspirasi. Setiap hari.

Kini, di penghujung tahun, sudahkah kita punya tujuan dan resolusi untuk tahun mendatang? Bahagia? Harus dong!

Judul buku: The Happiness Project
Penulis: Gretchen Rubin
Jumlah halaman: 315
Penerbit: Harper Collins Publisher (2011)

2 Responses to Resolusi Basi

  1. Tetty Yukesti says:

    Reading is opening window of the world where there are gardens full of roses, colorful petunias…enjoyable….

  2. […] The Happiness Project, buku yang saya ulas kali ini berjudul The Art of Thinking Clearly. Keduanya sama, makanan untuk […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected