Sambil Menyelam, Minum Kopi

Salah satu hal yang saya syukuri tinggal di Seoul adalah soal kopi. Di sini kedai kopi satu dan lainnya hanya dalam hitungan meter. Kopinya pun sedap. Semua nikmat. Hikmah lain adalah saya bisa belajar menulis Hangeul. Minimal nama dan lokasi kedai kopi yang sudah saya datangi. 🙂

Korea memang bukan negara penghasil kopi, tapi budaya minum kopi mereka berakar kuat dari generasi ke generasi. Mereka biasa memulai pagi dengan kopi. Banyak yang berbekal kopi ke tempat kerja atau kampus. Mereka biasa ke kedai kopi setelah makan siang. Hampir semua mahasiswa saya juga berbekal kopi ke ruang kelas.

Jurnal budaya Koreana (Musim Gugur, 2015) mencatat bahwa sejak budaya Barat ini diadopsi di awal abad 20, dabang (다방), yang secara harfiah berarti kedai teh atau kedai kopi, makin banyak. Di Seoul saja, setelah gencatan senjata tahun 1953 terdapat 214 dabang dan meningkat menjadi 1.041 pada tahun 1960.

Kopi pertama kali diperkenalkan di negara ini tahun 1890. Pada saat itu, mereka menyebutnya gabi atau gabae. Sebagian menyebutnya yangtangguk. Pada mulanya, kopi merupakan minuman kalangan kerajaan. Menurut catatan sejarah, Raja Gojong (bertahta tahun 1863-1907) pertama kali mencicipi kopi pada jamuan bersama pejabat Rusia pada tahun 1896. Kopi itu disajikan oleh barista pertama di Korea, Antoinette Sontag (1854-1925), seorang perempuan Perancis warganegara Jerman.

Menurut catatan sejarah, An Jung-geun (1879-1910) menunggu di sebuah dabang di Stasiun Kereta Harbin di bagian utara China sebelum ia membunuh Resident-General Korea Ito Hirobumi (1841-1909) pada tahun 1909. Memang, dabang sering kali disebut sebagai tempat yang berhubungan dengan peristiwa politik besar, termasuk gerakan pro-demokrasi, dalam sejarah Korea modern. Di sekitar universitas-universitas, dabang mulai banyak muncul pada tahun 1980an dan 90an.

Dabang pertama di Korea adalah “Kissaten” (kata dalam bahasa Jepang yang artinya kedai teh) di Stasiun Kereta Namdaemun (sekarang Stasiun Seoul) yang berdiri pada tahun 1909. Pada saat itu, terdapat banyak dabang di wilayah itu, karena wilayah itu merupakan tempat tinggal orang-orang Jepang yang terlibat dalam pembangunan jalur kereta Seoul-Sinuiju. Dabang pertama yang didirikan oleh orang Korea adalah “Cacadew,” milik sutradara film Lee Kyung-son (1905-1977) di Gwanhun-dong, Jongno, Seoul, yang mulai dibuka pada tahun 1927. Kedai kopi ini dibuka setelah tahun 1920an, yaitu setelah kopi menjadi minuman populer di Korea. Sejak itu, kedai kopi makin banyak dibuka di pusat kota, termasuk Myeong-dong, Chungmuro, dan Jongno.

Pada tahun 1920an dan 30an, kaum intelektual dan seniman juga membuka dabang, yang lalu menjadi tempat mereka menerima budaya baru dan saling bertemu. Novelis Yi Sang (1910-1937) membuka “Swallow,” sebuah dabang, di pintu masuk Cheongjin-dong, Jongno pada tahun 1933 dengan bantuan seorang gisaeng.  Penulis naskah drama Yu Chi-jin (1905-1974) mendirikan “Platana” di Sogong-dong, dan aktris Bok Hye-sook (1904-1982) memperkenalkan “Venus” di Insa-dong.

Begitulah. Kopi yang berawal sebagai minuman favorit kalangan kerajaan menjadi budaya para intelektual dan seniman. Kopi sebagai sebuah budaya kalangan atas berubah dari minuman mewah menjadi minuman populer. Dulu, minuman ini sangat mahal, tapi saat ini harga kopi sangat terjangkau. Di depan kampus HUFS tempat saya mengajar, ada kedai yang menjual segelas kopi dengan harga ₩900.

Tren kopi di Korea adalah kopi dabang pada tahun 1960an, kopi instan pada tahun 1970an, kopi campuran pada tahun 1980an, kopi kafe pada tahun 1990an, dan kopi franchise di tahun 2000an. Sejak awal tahun 2000an, pola konsumsi kopi menjadi jauh lebih beragam berkat makin banyaknya penggunaan mesin kopi drip, espresso, dan kapsul. Sebagian orang menyangrai biji kopi untuk membuat kopi yang lebih nikmat. Sebagian membeli mesin espresso, dan sebagian lagi mendalami ilmu kopi karena ingin mendapatkan lisensi sebagai barista, walaupun mereka tidak bekerja sebagai barista. Tapi, masih ada juga yang tetap menyukai kopi instan.

Sampai tahun 2015, terdapat sekitar 30.000 kedai kopi di negara ini. Kedai kopi ini menarik karena selain kopi, pelanggan bisa menikmati suasana dan tempat yang nyaman. Saat ini banyak kedai kopi dirancang dengan tema tertentu. Mereka memadukan kopi dengan hobi, misalnya kafe bertema buku, bunga, hewan peliharaan dan lain-lain. Dengan harga secangkir kopi, Anda bisa menggunakan kedai kopi sebagai tempat atau kantor selama beberapa jam. Ini melahirkan istilah baru dari kalangan mereka yang bekerja di kedai kopi, yaitu coffice.

Selain kopi di kedai kopi, ada lebih dari lebih dari 40.000 mesin kopi yang tersebar di seluruh negeri. Pada tahun 1990an, kopi dari mesin kopi swalayan ini harganya ₩100, sehingga kita bisa menikmati kopi hanya dengan uang koin. Sekarang, kopi dari mesin kopi masih diminati, meski kini jumlah itu hanya tinggal separuhnya.

Kopi bukan lagi minuman biasa bagi orang Korea. Minuman ini sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Selama beberapa tahun terakhir, kaum muda tergila-gila pada hidangan penutup yang mahal seperti macaron, coklat, kue dan es krim. Hidangan manis ini sangat cocok dipadukan dengan kopi.

Dengan banyaknya kedai kopi, tentu pilihan juga makin bervariasi. Tapi, tempat minum kopi favorit saya tetap satu: di rumah.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here