Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Sehari bersama Kang Didi

Ada berita duka. Seniman Didi Petet meninggal dunia. Banyak yang merasa kehilangan. Saya hanya mengenalnya selama satu hari. Satu hari tapi cukup menyisakan kesan asyik untuk dikenang.

Sabtu tanggal 1 September 2012, Akademi Berbagi mengadakan Kelas Umum dengan tema Taman Pembelajaran untuk Perubahan dengan tiga pembicara: Anies Baswedan, Didi Petet dan Handry Satriago. Saya dari Akber Bogor, ikut dalam acara itu dan bertugas sebagai LO Didi Petet.

akber2

Kang Didi adalah pembicara sesi kedua.  Dengan gaya santai ia mengawalinya dengan membacakan sebuah puisi karya Taufik Ismail (1977).

Sajak Anak Muda Serba Sebelah

Si Toni dicabut kupingnya satu yang kanan
Maka suara masuk kuping kiri tembus ke otak
Dikirim balik dan jatuh di kuping kiri lagi
Si Toni dipotong tangannya satu yang kanan
Maka dia belajar menulis dengan tangan kiri
Si Toni diambil satu matanya yang kanan
Maka air matanya tetes ke sebelah kiri
Si Toni dipetik jantungnya lewat rongga kanan
Tapi gagal karena jantung itu mengelak ke kiri
Si Toni dipotong ginjalnya satu yang kanan
Tak gagal karena sesuai secara faali
Si Toni diambil kakinya satu yang kanan
Maka dia main bola cuma dengan kaki kiri

Lama-lama si Toni jadi kidal
Kupingnya yang bisa dengar kuping kiri
Tangannya yang main gitar tangan kiri
Air matanya menetes di mata kiri
Ginjalnya menyaring di sebelah kiri
Dia tendang bola dengan kaki kiri

Lama-lama si Toni ingin kerja
Cita-citanya lumayan sederhana
Dia mau jadi sopir saja
Tapi tak ada lowongan baginya
Karena kendaraan setir kanan semua

Hai tunggu dulu, Toni ini anak saya kah
Atau anak saudara kah?
Atau barangkali kemenakan kita?
Keadaan ini memang aneh
Sore ini jam empat tepat
Dengarlah dia sedang mengocok gitarnya
Dengan cara anak muda bergaya kidal
Dan itu bukan suara gerimis, bukan
Itu air matanya
Memukul-mukul lantai beranda.

Menurut Didi Petet, karya seni tidak harus dimengerti, tapi untuk dinikmati. Seni mewarnai seluruh aspek manusia, bahkan membentuk karakter kita. Saya setuju sekali dengan pernyataan ini.

photo by Hafiz Farihi

photo by Hafiz Farihi

Dalam waktu yang singkat itu kami sempat berbincang mengenai banyak hal, salah satunya tentang kopi. Sayangnya kopi hitam yang kami mau tidak bisa didapat di acara itu.

Selamat jalan, Kang. Semoga khusnul khotimah. Tuhan memang keren, mempertemukan saya dengan salah satu orang hebat seperti akang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>