Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Selamat Datang di Korea

assistant profSelamat Datang, Prof. Nur Utami! Begitu bunyi tulisan yang dibawa mahasiswa yang menjemput saya di bandara Incheon, Korea Selatan, pada hari Minggu, 26 Agustus 2018. Saya menjadi profesor! :)

Semester ini istimewa buat saya. Mulai bulan ini (September) saya mengajar di jurusan Bahasa Melayu-Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Seoul. Di sini, profesor tidak hanya mengacu kepada seorang guru besar, melainkan juga dipakai sebagai kata sapaan untuk dosen.

Tentu tidak ada yang instan di dunia ini, pun jalan saya menuju ke Korea. Jalan panjang ini bermula dari jejaring pertemanan dan pekerjaan dengan teman dari universitas ini yang sudah terjalin sejak beberapa tahun silam, di antaranya saya awali dengan menjadi penerjemah untuk jurnal Koreana. Dan, di atas semua itu, kalau sekarang saya berada di kampus yang mengajarkan 45 bahasa, di antaranya Bahasa Indonesia, tentu tak lepas dari campur tangan Sang Mahabaik. Allah memang keren!

Jurusan Bahasa Melayu-Indonesia di kampus ini berdiri hampir 55 tahun lalu. Sejak awal, pihak kampus mendatangkan dosen tamu dari Malaysia dan Indonesia; dan saya merasa sangat beruntung menjadi salah satunya.

Mengajarkan BIPA bukan sesuatu yang baru buat saya. Sebelumnya, saya pernah selama beberapa tahun mengajarkan Bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing yang datang ke Indonesia melalui Program Darmasiswa. Kampus tempat saya bekerja, yaitu Universitas Pakuan khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, menjadi salah satu host university bagi mereka. Setiap tahun, mereka datang dari berbagai negara. Tahun ini, misalnya, mereka datang dari India, Kamboja, Polandia, Saudi Arabia, Serbia, Timor Leste, Korea Selatan, dan Palestina.

Yang sedikit berbeda adalah bahwa di Seoul situasi tutur berbahasa Indonesia yang menjadi sumber belajar mahasiswa lumayan terbatas. Di Bogor, mahasiswa asing sangat terbantu dengan adanya sopir angkot, teman-teman Indonesia, tukang ojeg dan lain sebagainya. Di sini tidak demikian. Jadi, mahasiswa dan dosen harus sama-sama bekerja keras. Semangatnya harus dua kali lipat!

Soal semangat ini penting, karena akan menular. Jika mahasiswa bersemangat, kami seolah mendapat asupan energi luar biasa. Jika kami menunjukkan antusiasme mengajar, mahasiswa akan terbawa antusias juga. Lalu, suasana kelas akan menjadi sangat menyenangkan. Itulah yang saya alami. Saya senang sekali melihat respon mereka yang luar biasa.

Di kampus ini, saya mengajar mahasiswa S1 dan S2, termasuk mahasiswa pertukaran dari negara lain. Jadi, mahasiswa yang mengambil kelas saya tidak hanya berasal dari jurusan Bahasa Melayu-Indonesia saja. Senang! Begini rasanya jadi profesor! :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>