Sepatu Dahlan: Membaca Film, Menonton Novel

bersama Khrisna Pabichara, Rena dan Rayya

bersama Khrisna Pabichara dan dua putrinya, Rena dan Rayya

Kalau sebelumnya kita mengenal quoteDon’t judge the book by its cover”, kini lahir “Don’t judge the book by its film” (Hollands, 2002). Quote itu lahir karena banyak film yang diadaptasi dari buku ternyata mengecewakan. Tentu pendapat ini adalah milik mereka yang sudah membaca bukunya, lalu membandingkannya dengan film adaptasi itu.

Kali ini yang saya alami sedikit berbeda. Film Sepatu Dahlan yang saya tonton adalah adaptasi buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Khrisna Pabichara, yang belum pernah saya baca. Saya tidak punya pembanding, tapi justru dengan begitu saya menjadi lebih adil menilai dan menikmati film ini.

Film ini bertutur tentang manusia dari dua sisi: sisi pribadi dengan mimpi-mimpinya dan sisi sosial-humanis dengan erat-lekatnya persahabatan dan ikatan keluarga. Bagaimana Dahlan, tokoh utama, mematri mimpi dan dengan gigih mengejar mimpi itu disuguhkan dengan menarik. Pertemanan dengan beberapa sahabatnya membawa pesan yang disuguhkan dengan manis.

Ada adegan yang membuat mata saya menggenang. Ketika Dahlan berbaring di samping ibunya dan sang ibu mengusap kepalanya sembari dengan lirih bersenandung kidung pengharapan. Ada dua hal yang membuat saya tak kuasa menahan air mata. Pertama, saya teringat sahabat saya yang belakangan baru saya ketahui masa kecilnya bersama ibu tak seindah masa kecil Dahlan. Barangkali usapan di kepala adalah sesuatu yang mahal baginya. Kedua, saya teringat anak lelaki saya, yang kini tak bisa saya usap kepalanya setiap hari karena berada di luar kota. Percayalah nak, doa ibu memelukmu dari jauh.

Secara keseluruhan film ini menarik. Akting beberapa pemain patut diacungi jempol. Kalau toh ada pemain yang kurang total menjiwai perannya, itu hal yang lumrah. Film ini juga tertolong dengan indahnya latar tempat yang ditampilkan. Alam selalu punya daya tarik tersendiri. Bravo Khrisna Pabichara!

3 Responses to Sepatu Dahlan: Membaca Film, Menonton Novel

  1. wongkamfung says:

    Beberapa adegan di film ini memang membuat air mata menggenang. :'(

    Salam persahablogan,
    @adiwkf

  2. mt says:

    Meskipun aku tak begitu suka sama Dahlan Iskan, tetapi filmnya kuakui bagus. bukunya apalagi.

  3. taufik says:

    Entah kenapa, aku selalu lebih suka bukunya.
    Mungkin ada bagian yang habis dibaca bisa direnungi dulu, sebelum melanjutkan baca lagi.
    Memang butuh waktu lebih lama ketimbang nonton. Tapi waktunya bisa diatur sendiri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected