Sri Sumarah: Representasi Wanita Jawa ala Umar Kayam

Kisah terakhir dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Utama Grafiti, 2007) ini merupakan cerita pendek terpanjang di antara cerita-cerita lain. Kumpulan cerpen ini terdiri dari sepuluh kisah, dengan There Goes Tatum  sebanyak 6 halaman sebagai cerita terpendek dan Sri Sumarah sebagai cerita terpanjang dengan  75 halaman.

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang wanita bernama Sri Sumarah, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya setelah kedua orang tuanya meninggal. Pemikiran sang nenek yang terbilang visioner ini membuatnya sempat mengenyam pendidikan hingga Sekolah Kepandaian Putri (SKP) pada masa itu. Tak hanya dalam bidang pendidikan, sang nenek juga membekalinya dengan berbagai pengetahuan mengenai tugasnya kelak sebagai istri dan ibu.

Sri menikah dengan Sumarto, seorang lelaki terpandang. Sumarto  meninggal dunia saat usia perkawinan mereka memasuki 12 tahun dan dikaruniai seorang putri.

Cerita ditutup dengan mengisahkan Sri yang menemukan kembali desir di hatinya yang bertahun-tahun menikmati kesendirian. Seorang lelaki yang lebih pantas menjadi suami anaknya itu memberinya harapan baru.

Perrine (1996) mengemukakan beberapa catatan tentang tokoh, dilihat dari intensitas kemunculannya dalam cerita dan perkembangan karakternya. Dari sini terciptalah tokoh utama dan tokoh sentral, tokoh dinamis dan tokoh statis; dengan ketiga dimensinya baik fisiologis, sosiologis maupun psikologis.

Jika dilihat dari intensitas kemunculannya, Sri Sumarah adalah satu-satunya tokoh utama dalam cerita ini. Sri muncul dari awal hingga akhir cerita, yang dengan alur maju mundur digambarkan sejak ia remaja hingga menjadi seorang nenek bercucu satu.

Latar kultural yang sangat kental dimanfaatkan benar-benar oleh Umar Khayam untuk menonjolkan karakter Sri sebagai  perempuan Jawa. Hal ini disampaikan dengan penuturan sudut pandang orang ketiga.

Secara psikologis, Sri muncul sebagai sosok istri yang sangat paham memainkan peran: mengerti kelemahan suami dan mengagumi kelebihannya. Didikan neneknya yang dipanggilnya embah sangat melekat pada jiwanya. Sri adalah seorang wanita yang sangat menjunjung tinggi adat. Ia sangat piawai memanjakan suaminya dengan pijatan dan elusan lembut. Ia sangat setia kepada suaminya, bahkan ketika suaminya sudah meninggal dunia. Di sisi lain, ia juga seorang wanita tangguh dan cerdas. Sebagai janda, ia tak berkabung terlalu lama dan segera mengambil langkah yang diperlukan dalam hidupnya bersama Tun, anaknya. Ia memikirkan solusi yang terbilang cerdas ketika Tun hamil sebelum menikah, hingga bagaimana ia membujuk pak RT ketika Tun tertangkap saat melakukan pemberontakan.

Dimensi fisiologis tokoh utama ini digambarkan sangat jelas. Sri adalah wanita yang pandai menjaga tubuh. Di usianya yang sudah tidak terbilang muda, ia masih memiliki badan yang segar, sintal dan wangi. Semua ini berkat kebiasaan minum jamu yang diajarkan oleh embahnya.

Kehidupan sosial sosok Sri mewakili kelompok menengah bawah. Meski tinggal di kota kecamatan dengan segala kesederhanaannya, namun ia berhasil menamatkan pendidikannya di SKP di kota kabupaten. Derajadnya juga makin terpandang ketika pada usia 18 tahun ia dipersunting Sumarto, seorang pemuda tampan dari kalangan berada. Keberadaan Sumarto sebagai priyayi ditandai dengan pekerjaannya sebagai guru dan penampilannya yaitu baju dan celana rapi lengkap dengan dasi serta  sepedanya yang mengilau. Kebiasaannya ngapurancang juga mencerminkan kelas sosialnya.

Tokoh Sri termasuk tokoh dinamis, yang ditunjukkan dengan perubahan pola pikirnya. Pada usia remaja ia dididik oleh neneknya supaya menjadi pribadi yang menyerupai Sembadra, namun seiring perkembangan usia dan kayanya pengalaman hidup, ia tidak lagi mendidik anaknya seperti itu.

Pemilihan bahasa dalam cerita ini juga semakin memperkokoh citra tokoh. Tokoh Sri digambarkan sebagai wanita Jawa yang dalam dialognya seringkali disisipi kosakata dari bahasa Jawa, seperti ngenes, ngapurancang, mas, sumarah, krasan, gombyor, mumpuni, alon, sampeyan, ngelmu, bengkok, mbok, kelon, wisik, saru, nyuwun, gusti, marem, gandem, nyamleng, manten, mantu, sangu, mepet, serem, lempeng, maro, mrucut, kesusu, bekti, ngarit, pangestu, bener, mijit, rengeng-rengeng, tetep, wong, ora, nyebut, nggambar, nembang, paringana, ngger, pakne, ngapura, dan amben. Walaupun, terdapat beberapa kata yang salah penulisannya, seperti roso (rasa), nduk (ndhuk), kulo nuwun (kula nuwun), tepo sliro (tepa slira), pepunden (pepundhen), rujak sente (rujak senthe), tuwo (tuwa), monggo (manga), dan ciloko (cilaka).

Selain Sri sebagai tokoh utama, cerita ini dipercantik dengan beberapa tokoh sentral. Mereka adalah embah, Tun (anak Sri), Sumarto (kelak berganti nama menjadi Martokusumo, suami Sri), Yos (menantu Sri, berasal dari Sumatra), pak RT, Giman (sopir Tuan Muda, pelanggan pijatnya), Tuan Muda (pelanggan pijatnya), dan Ginuk (cucunya). Mereka dengan peran masing-masing membuat eksistensi Sri semakin kuat.

Dengan penuturannya, pembaca serasa ikut mengalami pergolakan batin, baik pergulatannya melawan beragam peristiwa hidup maupun gejolak kewanitaannya sebagai perempuan yang sangat matang. Umar Kayam mampu merepresentasikan sosok wanita Jawa nan elegan dalam Sri Sumarah ini.

2 Responses to Sri Sumarah: Representasi Wanita Jawa ala Umar Kayam

  1. MT says:

    sepertinya wanita jawa di kota metropolis hanya sedikit ada.

  2. utami utar says:

    wanita Jawa sih banyak, tapi yang “nJawani” mungkin tak seberapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

error: Content is protected