The Black Swan

black swanAkhirnya selesai juga buku yang saya beli untuk teman menunggu jam tayang film Di Balik 98 minggu lalu ini saya baca. Saya memang pernah mendengar tentang fenomena angsa hitam ini, lalu memutuskan membeli buku The Black Swan karena buku ini banyak disebut dalam buku The Art of Thinking Clearly yang saya baca sebelumnya. Semacam reaksi berantai.

Dengan total 444 halaman lengkap dengan glosariumnya, buku ini memang buku ‘berat’. Bukan buku yang bisa dibaca sambil lalu. Referensi sampai hampir 30 halaman tentu menjadi jaminan pembahasan yang komprehensif.

The Black Swan sedikit banyak bicara mengenai dekonstruksi pengetahuan dan pola pikir, dan menggarisbawahi segala yang sifatnya tak terduga. Jika selama ini kita meyakini semua angsa berbulu putih, itu karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki. Hal-hal yang tidak kita ketahui ini disebutnya antiknowledge. Kita lebih suka mengandalkan segala yang terlihat dan malas mencari tahu lebih jauh.

Sering kali, kita terlalu mengagungkan apa yang kita ketahui dan menganggap remeh segala yang terjadi di luar dugaan. Padahal, hal-hal seperti inilah yang sangat berpotensi membelokkan rencana kita. Sikap abai seperti ini disebutnya tunneling. Taleb menulis, “Epistemic arrogance bears a double effect: we overestimate what we know, and underestimate uncertainty.” (halaman 140)

Kesombongan ini dicontohkannya dengan mengutip E.J. Smith, kapten kapal Titanic, sebelum kapal itu tenggelam. (halaman 42)

But in all my experince, I have never been in any accident … of any sort worth speaking about. I have seen but one vessel in distress in all my years at sea. I never saw a wreck and never have been wrecked nor was I ever in any predicament that threatened to end in disaster of any sort.

We feel responsible for the good stuff, but not for the bad. Selain kurang memperhitungkan segala kemungkinan, manusia juga tidak jujur mengakui kesalahan dan kegagalan. Kita cenderung menganggap kesuksesan adalah konsekuensi logis dari kemampuan dan ketrampilan yang kita kuasai, sedangkan kegagalan selalu disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar kendali. (halaman 152)

Kita akan menganggap sesuatu di luar perhitungan hanya jika keadaan itu tak bisa kita kendalikan. Jika semuanya terkendali, aman.

Sebenarnya, semua yang kita perlu ketahui sudah tersedia, hanya saja kita saangat suka melihatnya secara global, merangkum dan membuatnya sederhana. Ini disebut narrative falacy. Tentu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, dalam beberapa hal sikap seperti ini kurang tepat. Kadang, demi suksesnya sebuah rencana diperlukan juga perhatian atas hal yang lebih rinci.

Tapi sebaliknya, jika menyangkut alasan, kita adalah ahlinya. “We are explanation-seeking animals who tend to think that everything has an identifiable cause and grab the most apparent one as the explanation,” tulisnya. (halaman 119-120)

Sebenarnya, alam sudah memberikan kita mekanisme pertahanan (defence mechanism), seperti dalam cerita fabel Aesop, berupa kemampuan berpikir bahwa semua buah yang tak terjangkau oleh kita pasti rasanya asam. Tapi, kemampuan menerima keadaan tanpa banyak keluhan itu jauh lebih baik.

Sebagai penutup, apa yang ditulis Taleb di halaman 103 boleh menjadi pengingat. Tidak perlu terlalu terbuai dengan kisah sukses orang lain karena yang kita lihat itu belum sepenuhnya mewakili perjalanan yang mereka tempuh.

Benar juga yang dikatakannya, bahwa kita memang perlu waktu untuk belajar. Tentang diri sendiri, orang lain, dan tentang segalanya. Ada yang cepat, banyak yang lambat. Kadang bisa belajar mandiri, sering kali perlu bantuan orang lain. We do not spontaneously learn that we do not learn.

Mari belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>